Jumat, 30 Agustus 2013

PEMUPUKAN DAN PENGENDALIAN HAMA PEMBIBITAN KELAPA SAWIT


Dalam proses pembibitan ada beberapa hal yang patut diperhatikan, supaya proses pembibitan berjalan dengan baik, salah satunya ialah proses pemupukan dan pengendalian hama di masa pembibitan.


Dalam proses pembibitan penangan tanaman menjadi sangat penting semisal mesti tetap menjaga bibitan dari gulma. Penyiangan gulma dalam babybag pada pre nursery dilakukan dua minggu sekali secara manual, termasuk penambahan tanah dalam kantong bagi bibit-bibit yang terbuka berdasarkan bonggol akarnya dan bibit yang nampak doyong.

Untuk gulma yang ada dalam polybag di main nursery sebaiknya dilakukan secara manual dan sebaliknya untuk gulma yang tumbuh diluar polybag dapat menggunakan herbisida dengan alat semprot yang dilengkapi dengan pelindung pada bagiannozzel-nya guna menghindari terjadinya kabut herbisida, cara ini supaya herbisida mengenai bibit serta penyemprotan harus lebih rendah dari permukaan polybag.

Selain terus menjaga bibitan dari gulma, selanjutnya perlu juga dilakukan pengendalian hama dan penyakit pada saat pembibitan. Pemberantasan hama dan penyakit di pre nursery tidak dibenarkan menggunakan bahan kimia. Biasanya hama dan penyakit yang menyerang pada pre nursery dan main nursery tercatat serupa. 

Kerusakan pada pembibitan tentu saja membuat rugi petani atau pelaku perkebunan, berikut beberapa hama dan penyakit yang bisa saja timbul dikala masa pembibitan:

-         Kecambah gagal tumbuh, kondisi ini akibat kualitas tanah tidak baik, desinfeksi tanah yang kurang memadai, penanaman yang kurang bagus, penyiraman yang terlalu banyak atau terlalu sedikit serta gangguan hama.

-         Daun terbakar (gosong), kondisi ini akibat penyiraman yang tidak memadai setelah pemupukan, tingkat aplikasi pupuk dan pemilihan produk yang salah saat memberikan pestisida, atau akibat pemindahan naungan secara tiba-tiba.

-         Daun menjadi kuning, seringkali terjadi akibat kurangnya kadar keteduhan, pengurangan nitrogen setelah bulan ketiga atau terlalu banyak air.

-         Bercak Coklat Pada Daun (Necrosis), kondisi ini akibat kekurangan sinar matahari.

Anthracnose, merupakan penyakit yang paling serius dan bisa saja muncul selama masa pembibitan. Sirkulasi udara yang baik dapat mengurangi risiko tanaman terkena penyakit ini. Fungisida juga dapat diberikan setiap dua bulan sekali (2 g mancozeb atau chlorothalonil per liter air)

Sementara untuk serangga pemakan daun yang dapat menimbulkan kerusakan dapat dicegah dengan menyemprotkan larutan 0,8-1 g carbaryl atau 0,024 g deltamethrin per liter air. Kecambah yang muda harus dilindungi dari semut, rayap dan jangkrik, caranya dengan mengoleskan bubuk deltamethrin di sekitar lahan tanam. Siput dan sejenisnya dapat diawasi dengan menyebarkan metaldehyde secara acak di dalam pembibitan. Jika tikus menyerang, bersihkan batas pinggiran pre nursery dan pasang perangkap.

Pemupukan
Pemupukan dilakukan pada saat bibit berumur empat minggu setelah tanam, yakni ketika bibit telah memiliki satu helai daun berwarna hijau tua. Standar pupuk yang idanjurkan PT Socfin Indonesia pada saat pre nursery selain menggunakan urea juga menggunakan pupuk majemu 15-15-6-4.

Beberapa yang mesti diperhatikan dikala pemupukan di pre nursery, jangan mengaplikasikan pupuk dalam bentuk granular (butiran) sebab bisa menyebabkan kerugian berupa efek kontak (terbakar) pada tanaman. Sepatutnya mengaplikasikan pemupukan dalam bentuk liquid (cair), dengan cara menyiram ke tanah dalam kantong.

Dikala pemupukan di main nursery, selain menggunakan pupuk majemuk 15-15-6-4 atau 12-12-17-2 juga kieserite untuk bibit-bibit yang menunjukkan gejala defisiensi Mg setalh umur 8 bulan.

Pada saat melakukan pemupukan di main nusery ada beberapa hal yang mesti diperhatikan, semisala pertama, jangan mengaplikasikan pupuk dalam kondisi daun kering atau pada saat terik matahari. Lantaran, bakal mengakibatkan efek kontak (terbakar) pada daun, menyebabkan stress dan menghambat perkembangan bibit.

Lantas kedua, sepatutnya pupuk diaplikasikan melingkar secara merata di bibir polybag. Proses pemupukan itu mesti dilakukan secara hati-hati guna mencegah pupuk tidak mengenai daun lantaran dapat mengakibatkan efek kontak (bakar).

Ketiga, penggemburan ringan dibutuhkan guna membantu iar dan hara masuk ke dalam tanah, sebab lapisan lapisan padat dapat terbentuk akibat penyiraman yang berlebihan. Keempat, pupuk slow release tidak disarankan digunakan di main nursery.

Kelima, bibit-bibit yang menunjukkan gejala kekurangan Mg dapat diberi tambahan Kieserit dua bulan sekali dengan dosis, umur 8-9 bulan sebanyak 20 gr/bibit, 10-11 bulan sekitar 25 gr/bibit dan 12-14 bulan mencapai 30 gr/bibit. Pemberian ekstra harus dilakukan secara selektif bagi bibit-bibit yang memerlukan saja.

Data-data:

Pemupukan di Pre Nursery
Umur
Kosentrasi & Jenis Pupuk
Volume Siraman
Minggu Ganjil
Minggu Genap
1-3 bulan
0,2% pupuk urea
0,2% pupuk majemuk (15-15-6-4)
50 cc larutan per pokok disiramkan ke tanah dalam kantong
(=10 gram pupuk + 5 liter air untuk 100 pokok bibit

Pemupukan di Main Nuersery
Umur
(bulan)
Dosis Pupuk Majemuk
(gr/bibit)
15:15:6:4
Urea (gram/polybag)
4
5
-
4,5
5
-
5
5
-
5,5
5
-
6
7
-
6,5
7
-
7
15
-
8
-
10
9
25
-
10
-
15
11
30
-
12
-
20
13
35
-
14
-
25


Pengendalian Hama& Penyakit di Main Nursery
Jenis Penyakit/Hama
Gejala Umum
Pestisida Pilihan
Kosentrasi (%)
Keterangan (Penyemprotan digunakan untuk perlakuan pencegahan)
Anthracnose
Bagian daun mulai dari ujung daun menjadi berwarna kecoklatan. Terdapat batas yang jelas antara jaringan daun yang terserang dan yangs ehat
Daconil

Nustar 400EC
0,20

0,20
Rotasi 5-7 hari sampai seranganterkendali.
Curvularia
Spot atau luka coklat dengan batas kuning atau orange.
Captan 50WP

Dithene M45

Acti-dione 4.2 EC
0,40


0,20


0,025
Rotasi 7-10 hari. Afkir jika serangan parah dan bakar agar tidak menular.
Blast
Tajuk yang pucat dengan gejala stress air. Daun mati secara bartahap mulai daun tua. Jaringan tepi (cortical) dari akar membusuk sedangkan jaringan tengah tetap utuh.
Tidak ada penggunaan fungisida.

Kurangi suhu tanah dengan aplikasi mulsa dan naungan. Bibit harus disiram teratur. Tanaman mati harus dimusnahkan.
Kumbang Adoretus Apogonia
Lubang pada jaringan daun.
Lubang terkosentrasi sepanjang pinggiran daun.
Sevin 85 s atau Marshal 200SC
0,20
Pada saat serangan berat penyemprotan dilakukan 1-2 kali seminggu.
Kutu (Ollogonychus & Tetranuchus)
Bercak khlorotik kecil dalam jumlah banyak pada awalnya. Kemudian berubah menjadi kuning dan akhirnya keperakan. Kutu sulit dilihat pada permukaan daun bagian bawah.
Rogor 40 diikuti dengan Tedion 18 WP, 10 hari kemudian.
0,1
0,13
Arahkan penyemprotan pada permukaan daun bagian bawah.

Tedion aktif sebagian terhadap telur dan kutu yang masih muda.
Mealybugs & Jangkrik
Tajuk cenderung pucat dan kusam.
Heptachlor 10G
Tabur granule pada tanah di polybag dan siram.
Lebih banyak kerusakan pada akar dan jaringan tanaman dibawah permukaan tanah dibandingkan dengan kerusakan pada jaringan di atas permukaan atas.


Seleksi Pre Nursery
1.
Daun berputar (twisted leaf)
2.
Daun sempit seperti rumput
3.
Daun bergulung (roller leaf)
4.
Daun berkerut (crincle leaf)
5.
Daun tidak membuka (colante)
6.
Bibit terkena serangan penyakit
7.
Daun dengan strip kuning (chimera)
8.
Tanaman kerdil (runt)
Seleksi Main Nursery
1.
Pertumbuhan terhambat
2.
Pelepah tegak (barren/steriil)
3.
Pelepah memndek, rata atas (flat top)
4.
Pelepah dan anak daun lemas (limp/flaccid)
5.
Pelepah tidak pecah, bentuk muda (juvenille)
6.
Jarak anak daun pendek (short internode)
7.
Jarak anak daun lebar (wide internode)
8.
Anak daun sempit (narraw pinnae)
9.
Pertumbuhan sisipan anak daun halus
10.
Anak daun pendek dan lebar (short broad leaf)

Rabu, 28 Agustus 2013

PENGERTIAN PESTISIDA

Pestisida mupakan bahan kimia atau non kimia, racun yang digunakan untuk mengedalikan sekaligus membunuh organisme hidup yang mengganggu tumbuhan, ternak dan yang menjadi usaha hidup manusia untuk kesejahteraannya. Jasad hidup yang mengganggu tanaman disebut juga OPT ( Organisme Pengganggu Tanaman ).

Pestisida sesuai dengan keputusan Mentan No. 434.1/Kpts/TP.270/7/200, masih mengacu pada PP No. 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran, Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida.
Pestisida merupakan semua Zat Kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk :


  1. Mengendalikan Hama dan Penyakit yang merusak bagian-bagian atau hasil-hasil tanaman pertanian.
  2. Mengendalikan Gulma.
  3. Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian-bagiannya.
  4. Mengendalikan atau mencegah hama-hama luar pada hewan-hewan peliharaan dan ternak.
  5. Memberantas atau mencegah hama-hama air.
  6. Membetantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad renik dalam rumah tangga, bangunan, dan dalam alat-alat pengangkutan.
  7. Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang yang perlu dilindungi dengan penggunaan pada tanaman, tanah dan air.
Penggolongan Pestisida.

a. Bedasarkan Sasaran Target OPT (Organisme Pengganggu Tanaman).

    Berdasarkan garis besar, Pestisida dapat dikelompokkan berdasarkan kelompok OPT yang akan dikendalikan dan berdasarkan fungsi pestisida tersebut :

             JENIS PESTISIDA                                                FUNGSI
             
             Insektisida                                                              Mengendalikan Serangga.
             Fungisida                                                               Mengendalikan Jamur.
             Herbisida                                                               Mengendalikan Gulma.
             Bakterisida                                                            Mengendalikan Bakteri.
             Rodentisida                                                           Mengendalikan Tikus.
             Nematisida                                                            Mengendalikan Nematoda.
             Moluskida                                                              Mengendalikan Keong/Siput.
             Termitisida                                                            Mengendalikan Rayap.
             Acarisida                                                               Mengendalikan Tungau

b. Berdasarkan Cara Kerja Pestisida.

     Racun Kontak.
     
     Pestisida jenis ini bekerja dengan baik jika kontak atau terkena langsung dengan bagian dari OPT yang menjadi sasaran, sehingga dipakai untuk OPT yang berada dipermukaan Tanaman.

     Racun Pernafasan.

     Pestisida jenis ini dapat membunuh serangga dan hama pengerat (tikus) jika terhirup organ pernafasan. Racun pernafasan sering juga disebut sebagai fumigan dan sering digunakan untuk mengendalikan hama gudang.

     Racun Lambung.

     Pestisida jenis ini baru bekerja efektif jika bagian tanaman yang telah disemprotkan lalu dimakan oleh OPT dan racun bekerja setelah tanaman yang termakan diproses cerna.

     Racun Sistemik.
    
     Racun sistemik setelah dileburkan dan disemprotkan pada bagian tanaman akan diserap oleh tanaman melalui akar atau daun sehingga dapat membunuh OPT yang berada didalam jaringan tanaman seperti Jamur dan Bakteri.

     Rabun Tumbuh dan Pra Tumbuh.
    
     Herbisida purna tumbuh (post-emergence) mematikan gulma yang telah tumbuh dan memiliki organ yang sempurna seperti akar, cabang, dan daun. 
Sedangkan herbisida pra tumbuh (pre-emergence) mematikan biji gulma yang belum berkecambah.

     Racun Antikoagulan.

     Racun ini merupakan cara kerja yang umum dari rodentisid. Racun ini menghambat proses pembekuan darah dari tikus yang terkena racun tersebut.

c. Berdasarkan Formulasi Pestisida.

    Water Disparable Granula (WDG).

    Formulasi ini berbentuk butiran halus (micro granules) bebas debu, merupakan formulasi kering yang mudah dilarutkan didalam air. Formulasi ini didalam air bersifat kurang stabil (mudah mengendap) sehingga mudah diaduk terus-menerus selama proses penyemprotan.

    Emulsifiable Concentrate (EC).

    Pestisida ini diformulasi dengan bahan aktifnya hanya larut didalam minyak dengan penambahan bahan emulsi (pencampur minyak dan air), larutan ini tidak perlu diaduk terus meneruskarena bersifat stabil ( tidak mudah mengendap).

    Salt Concentrate (SC).

    Pestisida jenis ini, formulasinya menggabungkan bahan aktif dari turunan (derivatif) garam dengan air.  Contoh : 2,4 D bahan aktif herbisida yang sukar larut didalam air. Apabila direaksikan dengan bahan garam maka kelarutannya akan semakin baik.

    Wettable Powder (WP).

    Fomulasi Pestisida jenis ini, dibentuk dari bahan aktif dengan daya larut yang rendah. WP mengandung bahan tambahan (filter), seperti tepung. Pestisida ini berbentuk tepung kering bersifat tidak stabil didalam air sehingga perlu diaaduk dengan teratur.

    Ultra Low Volume (ULV).

    Formulasi Pestisida jenis ini, berbentuk butiran padat dengan ukuran seragam, sehingga mudah ditebarkan. Formulasi ini merupakan campuran antara bahan aktif butiran yang mempu mengikat ion, seperti butiran liat, vermikulit, atau dengan cara melapisi bahan aktif dengan polimer kapsul.

    

Selasa, 27 Juli 2010

Menghitung Potensi Bioetanol dari TKKS

Penelitian bioetanol dari tankos sawit alias TKKS sudah bisa mendapatkan sirup gula. Meskipun hasil ini belum optimal dan sekarang sedang kerja keras untuk meningkatkan yieldnya, tetapi hasil ini cukup memberikan sinar terang benderang. Maksudde, bioetanol dari TKKS sangat menjanjikan.

Dari hasil yang sudah ada, aku iseng-iseng menghitung berapa potensi etanol yang bisa dihasilkan? Dan, apakah hasilnya menarik secara ekonomi? Bagaimana prospeknya ke depan? Dan yang terpenting, apa saja yang mesti kita lakukan sebelum bisa sampai ke industri.

Kita seperti kejar-kejaran dengan ‘orang luar’, mereka juga sangat berambisi membuat etanol dari kayu. Kalau teknologi ini ditemukan dalam waktu yang lebih cepat. Indonesia bisa jadi negara terbesar yang memproduksi etanol dari kayu. [....mimpi mood....]

Dengan hitung-hitungan yang paling pesimis saja, mulai dari efisiensi pretreatment, efisiensi hidrolisis, efisiensi distilasi & dehidrasi, angka yang keluar tetap sangat menjanjikan.

Catatan: Ini hitungan-hitungan kasar dan berdasarkan asumsi khayalan. Jadi bukan berdasarkan data empirik. Data empiriknya mengikuti perkembangan penelitian yang sedang dikerjakan.

Dalam mimpiku (katakan saja begitu), dari setiap 1 ton TKKS (kering) bisa dihasilkan kurang lebih 100 kg etanol bahan bakar (EFG = Ethanol Fuel Grade). Padahal di sebuah pabrik yang cukup besar, tkks yang dihasilkan per hari bisa mencapai 200 ton basah. Anggap saja kalau kering ada 100 ton. Jadi, per hari bisa diproduksi sekitar 10.000 kg etanol alias 10 ton etanol.

Kita pakai harga paling jelek, harga yang ditawarkan oleh Pertamina. Pertamina kabarnya menghargai EFG dengan harga Rp. 6000/kg. [Menurutku pertamina gendeng banget, etanol industri aja yang kadar 95% harganya 2 kali lipat].

Jadi dalam satu hari omzetnya bisa mencapai:

= 10.000 kg x Rp. 6.000/kg = Rp 60.000.000

Pengusaha sawit mana yang ngak ngiler lihat angka ini….??????

Coba mimpinya diperbesar lagi sampai tingkat nasional. Dalam perkiraanku produksi TKKS nasional mencapai 19.6 juta ton. Jadi potensi bioetanol yang bisa diproduksi adalah:

= 10% x 19.6 juta ton = 1,96 juta ton atau 1.960.000.000 kg bioetanol fuel grade

Nilai ekonominya, dengan harga pertamina yang mengerikan bin mengenaskan bin mengecewakan, adalah:

= Rp. 6.000 x 1.960.000.000 kg = Rp. 11.760.000.000.000 alias Rp. 11.76 trilyun

Kalau bioetanol ini semuanya digunakan untuk dicampur dengan bensin, misalnya saja E10, maka volume E10nya mencapai (agar mudah anggap aja bj-nya 1):

19,6 juta liter

Saya ngak tahu, jumlah ini cukup ngak untuk memenuhi kebutuhan BBM nasional. Tetapi kalau dilihat angkanya akan sangat signifikan.

Menyulap limbah tankos sawit (TKKS) menjadi bioetanol masih memerlukan jalan yang sangat panjang dan berliku-liku. Tetapi, mimpi-mimpiku di atas semakin mengobarkan semangatku, kalau ini bukan hanya sekedar mimpi.

By. Isro Tanpa L _Berbagi Tak Pernah Rugi.

Bioetanol dari TKKS: sirup gula dari tankos sawit

Hari ini aku merasa seneng sekali. Tadi pagi sampai siang, kami tim penelitian bioetanol TKKS (tandan kosong kelapa sawit), mahasiswa dan pembimbing mendiskusikan hasil-hasil penelitian yang telah kami capai. Meskipun masih hasil awal, ada satu penelitian yang membuatku senang sekali, karena kami maju satu langkah lagi untuk membuat bioetanol dari TKKS.

teknologi bioetanol selulosa

Tapahan bioetanol selulosa seperti gambar di atas. Percobaan pretreatment awal kami sudah mendapatkan TKKS yang sudah dipretreatment. Kemudian oleh temen, Sukondo Jati, TKKS ini dihidrolisis untuk mendapatkan gula. Hasilnya ternyata sangat mengembirakan sekali.

sirup bioetanol tkks sukondo jati
Sukondo jati dan sirup TKKS-nya.

Jati melakukan hidrolisis TKKS dan mendapatkan hasil gula yang tinggi. Jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan di jurnal-jurnal ilmiah. Yield-nya (dari bahan baku) lebih dari tiga puluh persen. Konsentrasi gulanya juga lebih tinggi dari yang di jurnal-jurnal. Luar biasa dan melebihi ekpektasi kami.

Gula ini ditest dengan test sederhana: semut. Ada pepatah yang mengatakan bahwa ADA GULA ADA SEMUT. Kalau pepatah ini benar, seharusnya sirup TKKS-nya dikerubuti semut. Dan hasilnya, pasukan semut dengan sigap menyerbu sirup TKKS ini.

sirup tkks dikerubuti semut

sirup tkks dikerubuti semut

sirup tkks dikerubuti semut

Hasil-hasil penelitian ini akan dipresentasikan di seminar tentang bioenergi di RRC oleh Jati. Sukses berat, Jati.
Keep spirit…..!!!!!!

[Mohon maaf data dan metode belum bisa ditampilkan, karena belum dipublikasikan secara resmi]

Posted in Bioethanol, Lignoselulosa, Limbah Perkebunan, Literatur, MyResearch. Tags: , , , , , , , , , .

Rabu, 06 Januari 2010

Bank Dunia melanggar standarnya sendiri membangun sektor kelapa sawit di Indonesia

Cabang sektor swasta Bank Dunia – International Finance Corporation (IFC) – telah membiarkan kepentingan komersial menggantikan standar sosial dan lingkungan Bank Dunia dalam memberikan pinjaman kepada sektor kelapa sawit di Indonesia, sebuah audit internal mengungkapkan.
Kelapa sawit telah sama dengan pembabatan hutan dan lahan gambut dimana-mana, emisi CO2 besar-besaran dan pencurian tanah-tanah masyarakat adat.

Walaupun IFC tahu semua resiko tersebut, karena proyek-proyeknya yang terdahulu dan peringatan-peringatan dari organisasi-organisasi non pemerintah, IFC tetap meneruskan pinjamanan kepada Wilmar palm oil trading group, melanggar standar-standarnya sendiri, menurut laporan audit tersebut. IFC gagal menilai rantai pemasok (supply chains) atau melihat dampak merusak perkebunan-perkebunan anak perusahaan tersebut yang mengambil-alih tanah-tanah dan hutan di Kalimantan dan Sumatra.

Temuan-temuan tersebut memiliki beberapa implikasi bagi IFC: tidak hanya harus menerapkan standar-standarnya sendiri lebih berhati-hati tetapi IFC juga harus memeriksa kekawatiran soal darimana perusahaan-perusahaan yang IFC danai mendatangkan bahan-bahan baku mereka. Minyak sawit merupakan salah satu contoh komoditas yang diproduksi bertentangan dengan kaidah-kaidah.

Temuan-temuan ini bersumber dari laporan audit yang sangat penting dikeluarkan oleh Compliance Advisory Ombudsman dari IFC yang memeriksa satu laporan lengkap yang disampaikan oleh Forest Peoples Programme dan koalisi 19 organisasi masyarakat sipil Indonesia, termasuk Sawit Watch dan Gemawan.

Norman Jiwan dari NGO pemantau Indonesia, Sawit Watch, mencatat:

Ketika kami menyampaikan laporan kami mencatat bahwa anak-anak perusahaan Wilmar menggunakan api secara ilegal untuk membersihkan hutan primer dan kawasan bernilai konservasi tinggi dan merampas tanah-tanah masyarakat adat tanpa keputusan bebas, dididahulukan dan diinformasikan dari mereka, memicu konflik-konflik yang gawat. Laporan ini menunjukan bahwa IFC menggantikan standar-standarnya sendiri dan mengabaikan peringatan-peringatan kami terdahulu.

Dalam menanggapi laporan tersebut Lely Khairnur dari Gemawan mengatakan:

Pembangunan berarti mengutamakan kebutuhan dan hak-hak masyarakat lokal. Standar-standar IFC menwajibkan ini. Tetapi mereka mengedepankan kepentingan bisnis dan membiarkan tanah-tanah rakyat dirampas demi minyak sawit yang murah dalam pasar internasional. Masyarakat dan hutan milik mereka dirusak dengan semena-mena, dan akhirnya seluruh planet bumi menderita.

Marcus Colchester Direktur Forest Peoples Programme menambahkan:

Kami puas bahwa laporan audit ini membuktikan secara lengkap bahwa semua keprihatinan utama kami, juga tanggapan dari Manajemen IFC terhadap audit tersebut menyarankan mereka sekarang akan mencoba melakukan segala sesuatu dengan berbeda. Tetapi kami masih agak kecewa. Kami harus menunggu lebih dari lima tahun baru IFC menangani persoalan tersebut dengan sungguh-sungguh. Dengan mempertimbangkan pentingnya menghentikan kehancuran hutan dan pelanggaran hak asasi manusia, kami mendesak Presiden IFC untuk mengambil langkah-langkah pro-aktif untuk memastikan bahwa ini tidak akan pernah terjadi lagi.

"Konversi Lahan Gambut jadi Kebun Sawit Percepat Pemanasan Global"

Di sela-sela pertemuan resmi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang berlangsung dari tanggal 2-4 November 2009 di Kuala Lumpur, Malaysia, Sawit Watch menggelar konferensi pers yang dihadiri beberapa wartawan media cetak dan elektronik dari Indonesia dan Malaysia.

Dalam kesempatan itu, Direktur Eksekutif Perkumpulan Sawit Watch menyebutkan tujuan terbentuknya RSPO adalah mengikat komitmen banyak pihak, terutama perusahaan perkebunan kelapa sawit agar tidak melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan menjaga keberlanjutan lingkungan dalam penyelenggaraan perkebunan sawit.

"Para anggota RSPO harus mematuhi Prinsip dan Kriteria serta Indikator berkelanjutan yang sudah disepakati bersama. Jadi hal lumrah bila banyak pihak di luar bahkan di dalam forum ini sendiri berharap, berkesempatan bahkan menantang RSPO segera menyelesaikan persoalan-persoalan sosial dan lingkungan yang muncul akibat perkebunan sawit, " lanjut Abet Nego Tarigan.

Sementara itu Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Berry Nahdian Furqan, mengatakan, "Sejak RSPO ada dari tahun 2003 hingga saat ini, persoalan sosial dan lingkungan yang muncul akibat perkebunan sawit skala besar belum juga terselesaikan. Saya khawatir pertemuan ini hanya untuk bercakap-cakap saja diantara banyak pihak tanpa menyelesaikan persoalan. Seharusnya RSPO bisa menjamin hak masyarakat adat atau lokal dari perluasan kebun sawit. Juga mampu memaksa
anggotanya untuk tidak lagi membuka kebun di kawasan hutan dan lahan gambut,"

Sehubungan dengan pernyataan Sawit Watch dan Walhi, Bambang Hero Saharjo dari Fakultas Kehutanan Insitut Pertanian Bogor, menjelaskan berdasarkan penelitian yang dilakukannya bersama dengan Sawit Watch didapati fakta dan data bahwa pembukaan kebun sawit di lahan gambut akan mempercepat
pemanasan global akibat terlepasnya gas rumah kaca, terutama karbondioksida (CO2) yang tersimpan di gambut.

"Berdasarkan penelitian kami di Tanah Grogot, Kalimantan Timur, kebun kelapa sawit yang ditanam di tanah mineral selama 25 tahun hanya mampu menyerap 130 ton CO2 eq/ha. Kalaupun bervariasi maka kemungkinan besar tidak akan lebih dari 180 ton CO2 eq, mengingat kandungan karbon pada bagian atas permukaan tanah di kebun kelapa sawit adalah 39,94 ton / ha atau setara dengan146,58 ton CO2 eq./ha."

Bambang melanjutkan, "Emisi GRK yang realistik dari lahan gambut yang terdrainase adalah 25-55 ton CO2-eq/ha/tahun atau sekitar 625-1375 ton CO2-eq untuk selama 25 tahun. Sementara untuk tipe penggunaan lahan alang-alang pada kedalaman 0-30 cm total kandungan karbonnya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pada areal bekas pembalakan dan areal bekas terbakar yaitu 252,855 ton/ha atau setara dengan 927,98 ton CO2 eq./ha selama 25 tahun. Jadi konversi lahan gambut jadi perkebunan sawit jelas akan mempercepat pemanasan global. Kalaupun harus ekspansi, sebaiknya kebun sawit ditanam di daerah alang-alang."